Laman

Sabtu, 22 Maret 2014

Coretan Hati Seorang Ukhti….



Januari  2007
Entah apa yang sedang merasuki hati ini, ry aku takut akan bercak-bercak merah jambu itu. Kuingin semuanya pure hanya untuk Allah, aku adalah seorang murobbi yang sering menekankan agar  tetap menjaga  jarak dengan ikhwah karena ketakutanku yang  teramat besar akan banyaknya kader yang insilah cuma gara-gara satu kata ‘cinta’. Ry, aku hanya tidak ingin adik-adik mutarobbiku menjadi salah satu yang terjangkit virus merah jambu itu yang pada akhirnya dapat menimbulkan noda-noda hitam dihati kecil kami. Ry, sekarang baru kurasakan bagaimana virus itu menjangkitku dan menggerogoti hati kecilku secara perlahan tapi pasti dan tanpa kusadari hingga akhirnya aku menemukan namanya tergantung secara otomatis di otakku.

Di akhir bulan yang sama, akhir Januari 2007
Sekarang nama itu tidak hanya sekedar tergantung tetapi sudah tertancap kuat di otakku sehingga pikiran ini sering tertuju padanya. Kutilik-tilik apa sebenarnya penyebab dari semua ini?.
Mmhhh….semua berawal dari diskusi untuk memajukan dakwah, sharing seputar hambatan dan tantangan, saling tolong menolong, semuanya untuk dakwah. Kelihatannya ukhuwah itu semakin terasa indah tapi kenapa dampaknya bisa seperti ini?. Kucoba flashback kebelakang, oh…God, ternyata...Saat itu baru kurasakan akan beratnya cobaan, ujian dakwah, sepertinya tidak ada seorangpun dari sahabatku yang mampu memberikan solusi hingga dengan tanpa sengaja ia memberikan tips-tips jitu yang sebenarnya hanya untuk memotivasiku tapi kurasa itu mampu mengurangi beban yang menggunung di pundakku. Sepertinya syetanpun sudah mulai bermain. Yah….itulah awal dari semua ini. Mungkin.

Februari 2007
Lagi dan lagi… nama itu masih saja menempel. Segala usaha sudah kukerahkan dengan sekuat tenaga. Tetapi kenapa? Kenapa tidak ada perubahan sedikitpun? Atau ada yang salah denganku? Atau usahaku yang belum maksimal? Sebenarnya rasa ini apa? Cinta? Simpati? Atau hanya sekedar kagum saja? Entahlah…akupun tak ingin terlalu larut memikirkannya. Kurasa lebih baik bagiku untuk segera berwudhu dan menunaikan sholat, seruanNya telah terdengar satup-sayup dari masjid tua yang penuh dengan kenangan bagiku.

17 februari 2007
Ry, kok bisa jadi beginiiiii? Aku menangis sejadi-jadinya.
Apakah hati ini sudah terlalu kotor sehingga lama kelamaan aku mulai menikmati cintaku padanya, malah aku mulai memelihara cinta semu yang belum tentu jadi milikku. Ry, jauh di lubuk hatiku yang terdalam aku tidak menginginkan ini semua, aku rindu saat-saat bercinta denganNYA, aku rindu saat-saat bersama dengan sahabat-sahabatku dan merasakan manisnya ukhuwah. Aku rindu ry, aku rindu……
Bantu aku untuk menghentikannya. Fitrahkah ini?. Sungguh ujian fitrah yang menyakitkan.

Maret 2007
Alhamdulillah ry, sekarang aku sudah mulai bisa mengontrol perasaanku yang tidak jelas arahnya ini. Aku senang bangat ry, seperti menghirup udara segar di daerah pegunungan setelah bertahun-tahun berada di daerah perkotaan yang full polusi. Alay deh, hee….tapi benar, aku sangat sangat sangat bahagia, kalau orang bule kata really so….happy.
Beberapa bulan kedepan sepertinya aku akan sangat sibuk ry, maklumlah tahun ajaran baru_the time for recruitment. Akan banyak bibit-bibit baru yang perlu disirami agar kelak bisa menjadi tumbuhan yang unggul dan bermanfaat.
Masalah cinta, cinte, cinto atau apalah, buang jauh-jauh ah….banyak hal yang jauh lebih penting. DAKWAH ILALLAH



April 2007
Persiapan penyambutan mahasiswa baru, perkenalan organisasi dan tentunya rekrutment menjadi agenda utama yang akan selalu kami syurokan dua bulan ke depan. Dia ry, dia, dia dan dia. Kepalaku sampai nyut-nyut memikirkan cara untuk menghindarinya.
Diskusi setiap hari dengannya sebenarnya selalu kuhindari, tapi tidak mungkin aku harus menghindar selamanya ry, alasan apalagi yang akan kuutarakan. Dia, dia, dia… namanya mulai memasuki otakku lagi ry, aku berontak, aku tidak rela kalau hati dan otakku ini diduduki oleh namanya lagi. Aku tidak rela…sama sekali tidak rela…!!!
Mungkin karena aku terlalu bahagia dan terlalu yakin bahwa namanya sudah betul-betul hilang dari  benakku, ternyata tidak, malah kebalikannya, semakin dalam. Rabb, cobaankah ini? Apa ini bentuk ujian yang Engkau berikan untuk hamba? Kukira akan mudah bagiku menghadapi ujian seperti ini. Aku terlalu sombong.

Juni 2007
Hatiku sakit ry, sakit…sakit….sakit sekali, sakit karena mencintai seseorang sebelum saatnya, sakit karena tiap hari aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mengikis rasa ini dan yang paling sakit karena aku sudah menghianati cintaNYA, alpa dalam mengingatNYA, lupa untuk memujiNYA, dan tidak hadir untuk menjumpaiNYA di sepertiga malam. Aku rindu ry, aku rindu dengan indahnya sujud, merasakan kenikmatan menemuiNYA dalam keheningan malam…
Aku rindu, rindu yang terdalam yang kupunya…

Masih di bulan yang sama, Juni 2007
Disela-sela syuro tadi beliau bilang kalau ia mungkin akan pindah kota, maklumlah beliau kan baru saja menyelesaikan kuliahnya meski belum diwisuda, dengan nada bercanda tapi entahlah itu serius atau tidak, yang jelas aku sedikit merasa lega karena tidak akan berjumpa dengannya lagi dan yang pastinya akan memudahkanku untuk melupakannya, tapi ry dibalik itu semua sebenarnya aku merasakan ada sesuatu yang menusuk hati ini ketika mendengar statementnya untuk pindah kota. Cukup sakit ry. Tapi kuselalu yakin Allah akan memberikan yang terbaik bagiku.

Agustus 2007
Di keheningan malam saat berjumpa dengan Rabbku, ditemani rintik-rintik hujan, sama seperti mataku yang mengeluarkan rintik-rintik air mata dari tadi.
Setelah “menghilang” selama dua bulan, tadi siang aku melihat Akh Zaki bersama seorang perempuan berjilbab. Aku kenal baik dengan beliau, tidak mungkin akh Zaki melakukan perbuatan yang dilarang agamanya tapi tidak mungkin juga itu adik atau saudaranya, tatapan akh Zaki pada perempuan itu, perempuan yang akupun belum pernah melihatnya sebelumnya. Aku hampir suudzon ry, beruntung Tari cepat menyadarkanku dari lamunan-lamunan syaiton. Akh Zaki menggandengnya menuju ke arahku dan Tari. Aku semakin shock ry melihat Akh Zaki menggenggam tangan perempuan yang namanya baru kuketahui_mbak Zahra, berbeda dengan Tari, ia hanya tersenyum simpul menandakan kebahagiannya untuk akh Zaki.
Tanpa basa-basi akh Zaki mengenalkanku pada mbak Zahra, akhwat yang sudah menjadi istri akh Zaki dua minggu yang lalu, secepat kilat kusembunyikan kegugupanku dengan senyuman dan bersalaman dengan mbak Zahra, ia tersenyum lembut padaku, cantik, secantik namanya Zahra.
Tari sahabatku, sepandai-pandainya aku menyembunyikan perasaan, ia tetap mengetahuinya. Tari heran melihat kegugupanku, untungnya aku bisa sedikit bersilat lidah hingga akhirnya Tari tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya, aku hanya mengatakan kalau kegugupanku itu karena surprise melihat akh Zaki sudah menikah. Taripun minta maaf karena lupa mengabariku perihal pernikahan akh Zaki, sebenarnya beliau sudah memberitahukannya seminggu sebelum pernikahan disaat syuro. Dan saat itu aku tidak bisa berhadir karena ada kuis dadakan di kampus.
Ry, aku sedih atau mungkin juga terluka. Namun kuyakin ia bukanlah yang terbaik untukku, kuyakin juga nun jauh disana, di negeri antah berantah atau entah dimanapun itu sudah ada seseorang yang mempersiapkan dirinya untuk menjemputku, dan selayaknyalah untukku sekarang untuk mulai menata hati dan terus memperbaiki diri. Inilah jalanku. Ikhlaslah duhai jiwa. Senyumku tak kan pernah hilang.

September 2007
Di tengah rutinitas dan amanah dakwah yang menggunung, di tengah tugas-tugas yang belum juga kuselesaikanku dan masih banyak hal lagi yang harus diselesaikan, ah….tak ingin ku mendatanya satu persatu, ku tinggalkan duniaku untuk sementara. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini ku ingin tidur lebih awal, karena ku ingin menjumpai sang Kekasih di sepertiga  malam dengan wajah yang cantik (hehe…) dan dengan pikiran yang tenang.
***
Tanpa kusadar air mataku sudah menetes secara perlahan namun pasti, kuadukan segala gundah gulana, hati yang nelangsa, pikiran yang tak menentu, apapun itu, ku ingin Ia tau bahwa aku disini sangat membutuhkan pertolonganNya, sangat membutuhkan dekapanNya.

Desember 2007
Tak ada yang istimewa yang ingin ku tuliskan untukmu ry, semua kegiatanku berjalan normal tanpa hambatan bagaikan bus yang melintas di lalu lintas yang lengang. Mmmmm…..entahlah ry, Allah selalu memberiku kemudahan tapi kenapa aku malah gak nyaman ya ry, aku selalu teringat kata-kata tari “jika engkau masih diberikan cobaan atau ujian itu berarti Allah masih menyayangi dan mencintaimu, Ia ingin kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bisa naik peringkat dengan ujian yang diberikanNya. Dan khawatirlah ketika kamu tidak menjumpai kesulitan dalam gerak langkahmu, bisa jadi Allah tidak mempercayaimu atau bahkan tidak mencintaimu, naudzubillah min dzalik…”. Kata-kata ini yang meresahkanku ry, dikasi ujian akunya nangis-nangis, tak dikasi ujian seperti ini juga akunya sedih. Mmmmm…dasar manusia, tak pandai bersyukur. Istighfar….istighfar…..


Mei 2009
Alhamdulillah ry, akhirnya aku wisuda juga. Alexa Lovato, S.Psi, senangnya sudah menyelesaikan studiku. Alhamdulillah, usahaku tidak sia-sia, aku menjadi lulusan terbaik untuk tahun ini ry. Oia aku lupa bilang kalau aku juga sudah bekerja di salah satu perusahaan ternama di kotaku. Satu lagi ry, InsyaAllah September ini aku akan menyempurnakan separuh agamaku, (kalau ada yang mau, hehe..)

Juli 2009
Maha Penyayangnya Allah, tak banyak berharap doaku terkabul tapi Allah punya rencana untukku. Tadi siang ustadzah Afni menyerahkan map yang akupun tak tau isinya sampai sekarang tapi yang jelas semua yang ada dalam map itu adalah tentang seseorang yang kata ustadzah ingin mengkhitbahku. Aku sudah berniat tak akan membuka map itu sampai ijab qabul nanti, masa laluku membuatku sedikit kaku, tak ingin ku mencintai seseorang yang belum betul-betul resmi menjadi suamiku jadi kuputuskan untuk menutup rapat-rapat map itu, yang kutau ia bernama Annur dan ia seorang yang sholeh, begitu kata ustadzah ketika memberikan map itu kepadaku. Aku hanya memperbanyak shalat malam dan istikharahku dan tak lupa, meminta doa dari sepasang insan yang paling mencintaiku, ibu bapakku.

Akhir Agustus 2009
Dua minggu sebelum hari H, aku semakin yakin dengan pilihanku, Allahlah yang memberiku keyakinan sekuat ini, keyakinan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seluruh persiapan sudah selesai 90%.

09 September 2009, sejam sebelum akad
Aku dan rombongan tiba di sebuah masjid disamping gedung yang akan jadi tempat walimah. Tiba-tiba aku merasakan tenggorokanku kering, sangat kering sehingga tak ada air liur yang bisa kutelan, jantungku yang tadinya tenang dengan tasbihnya kini bagaikan pukulan beduk yang tidak beraturan, tanganku tak lagi bisa kukontrol, ia gemetar hebat, bahkan kakiku sangat sulit untuk melangkah. tak jelas apa yang sedang kurasakan saat itu. Saat dimana sebuah papan bunga yang kubaca berbeda dari yang lain. “Selamat Berbahagia, Alexa & Zaki, bla..bla…bla…dari Universitas Islam Medan.” Oh…tidak, mungkin aku hanya salah melihat, kusadar sekarang aku dalam keadaan puncak nervous, mungkin aku hanya berhalusinasi. Kutarik nafas dalam-dalam untuk memulai menenangkan pikiranku yang sudah amburadul.
Aku duduk manis dibagian perempuan yang terpisah dengan bagian laki-laki. Aku dapat melihat jelas ayahku nan gagah yang sepertinya sudah sangat siap untuk melakukan prosesi ini, beliau adalah salah seorang yang terus mendesakku untuk menyempurnakan separuh dienku, disamping ayah ada Bang Farid, Abang yang begitu berjasa dalam proses pra nikahku, dari mulai ta’aruf sampai segala pernak-pernik pernikahan. Aku menyerahkan semua keputusan pada Bang Farid dan tentunya Ayah dan Ibu.
Dan diantara keduanya, ada akh Zaki. Adakah bang Farid mengundangnya? Ataukah ia menjadi salah satu saksi pernikahanku? Oh….tidak. Papan bunga itu ternyata benar, ayah menggemgam erat tangan akh Zaki saat mengucapkan ijab. Aku hampir tak bisa mengendalikan diri untuk berteriak agar pernikahan ini dibatalkan, tapi tiba-tiba ibu memelukku dengan tangis bahagianya, aku baru tersadar ijab qabul ternyata baru saja selesai, hanya hitungan detik hidupku sudah berubah, aku masih merencanakan untuk membatalkan pernikahan tanpa berpikir kalau proses ijab qabul itu hanya berlangsung beberapa detik. Dan inilah aku sekarang, seorang istri. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berusaha untuk tersenyum. Aku masih bisa tersenyum melihat kebahagian keluargaku terutama bang Farid yang rela bersusah-susah bahkan melepaskan proyek yang diimpi-impikannya hanya untuk mengurusi pernikahanku. Aku terlalu yakin akan bisa mencintai siapun yang akan menjadi suamiku. Ah…..apakah aku terlalu sombong dengan keyakinanku sendiri. Allah, ampuni aku. Kenapa ia datang disaat cinta tak lagi ada untuknya??? Dan aku tak melihat mbak Zahra berada diruangan ini, dimanakah ia???
Salahku jadi orang yang kurang peduli, Zaki adalah nick namenya Muhammad Annur, Zaki jugalah yang pernah singgah di diaryku. Mbak Zahra meninggal saat melahirkan anak pertama mereka setahun yang lalu. Belum bisa kumengerti skenario ini, ia datang ketika tak ada cinta untuknya, ketika kumencoba belajar untuk mencintai makhluk bernama Muhammad Annur.

Medan, 22 Mei 2011
#Junkusay

SURPRISE CINTA



"Waduuuh… Ternyata jadi reporter ribet juga ya”. Keluhku pada Sanjaya, juru kamera yang selalu ada di sampingku, kemana-mana kami selalu bersama, kalau kata orang nih, kami lengket kayak prangko, hehe.
Inilah aku Alexa Lovato, muslimah yang hijrah secara kaffah1 di waktu kuliah dulu, aku anak Psikologi yang bercita-cita jadi psikolog anak, tapi nyasar jadi reporter, entahlah mungkin takdir yang membawaku ke dunia ini, dunia yang penuh dengan tantangan. Semangat!!!

25 Juni 2009
Inilah hari pertamaku jadi seorang reporter muda alias junior, teman-temanku tidak ada yang percaya saat aku bilang kalau aku diterima di salah satu stasiun TV sebagai reporter, kebanyakan mereka komentar soal jilbabku, apa gak gerah dengan cuaca yang amat sangat panas, apa gak berkibar tuh jilbab kalau lagi lari-lari ngejar sumber  info atau tersangkut di pagar orang pas lagi meliput atau ditarik sama anak-anak dikirain layangan, dll. Banyak deh komentar-komentar aneh yang menggelikan tentunya. Bagiku semua itu adalah bunga-bunga kehidupan.

7 September 2009
Tugas pertamaku yang bikin nervous bin deg-degkan karena stasiun TV kami satu-satunya yang diperbolehkan meliput kehidupan sehari-hari salah seorang pemain sepak bola nasional yang lagi hot-hotnya diperbincangkan masyarakat yang dalam waktu dekat akan mengikuti kejuaraan Internasional, ckckcckk….aku masih belum percaya dikasih tugas sepenting ini, aku kan masih baru di dunia ini, tapi bosku bersikeras kalau aku orang yang paling tepat untuk tugas ini. Okelah Bos kalau begitu, saya akan berusaha memberikan yang terbaik.
Mmm… Amanah pertama yang penuh tantangan, mudah-mudahan ini bisa menjadi batu loncatan agar aku bisa lebih kompeten. Liputan ini pasti cukup melelahkan karena aku akan meliput kehidupan sehari-hari seorang atlet yang super sibuk dari terbit sampai terbenam matahari, dari mau tidur sampai tidur lagi,  selama seminggu. Seminggu....!!!
Duuuhhh…..terasa makin berat saja ini tugas.

9 September 2009
Besok  pertempuran sudah dimulai, ngisi amunisi dulu ah…. Tahajjud dengan bumbu tilawah secukupnya  kurang lebih 1 juz. Mudah-mudahan tugasku ini bisa berjalan dengan lancar, amin.

10 September 2009
Gak nyangka reporter kelas teri seperti aku ini bisa jadi bahan obrolan teman-teman sekantorku. Bahkan reporter papan atas juga ikutan ngegosipin reporter papan pintu ini!!! hehe. Heran…heran.
Sebagai wanita berjilbab kain gorden (kata rekan kerjaku dalam guyonannya,hehe) yang satu-satunya di tempat kerjaku ini, aku hanya menanggapi dengan senyuman. Aku tidak habis pikir bakalan digosipin sama si Bos cuma gara-gara Bos ngasi tugas ini!!!
Aku sech gak apa-apa, santai saja, memang tidak ada apa-apa. Tapi si Bos kasian dia. Mr. Zoe begitulah aku memanggil bosku, di usianya yang masih cukup muda, 28 tahun, ia sudah ditinggal oleh istri tercinta, lebih kasian lagi Kafka, bocah yang baru berumur dua tahun itu sudah tidak bisa merasakan dekapan seorang ibu, lembut belaiannya, hangatnya ciuman dan perhatiannya. Uuhh...jadi sedih, ingat ibu di kampung.
Baru dua bulan yang lalu si Bos ditinggal mbak Ayu, istrinya, air matanya pun belum kering, eh….sudah digosipin sama anak-anak, ckckck, teganya, tega…tega….tega!!!
Tega banget sech ngegosipin aku ada hubungan spesial sama Bos, sampai ada yang bilang Bos ngasi tugas ini supaya bisa PDKT, karena menurut mereka si Bos lagi nyari ibu baru buat Kafka, katanya sih kriterianya tidak jauh-jauh dari mbak Ayu, meski jilbabnya almarhumah mbak Ayu gak sepanjang jilbabku tetapi sudah memenuhi kriteria jilbab syar’i, nah, itu dia alasan mereka.
Pinter banget ya mereka kait mengkaitkan kondisi orang, jadi kesal juga nih. Biarkanlah apa kata mereka seperti kata pepatah “anjing menggonggong kafilah berlalu”

11 September 2009
Tidak terasa dua hari sudah berlalu dengan terus mengikuti kegiatan si pesepak bola, Alghi, biasa ia dipanggil, tapi aku mulai merasa tidak nyaman, apa mungkin gosip yang kuanggap murahan itu ternyata benar adanya, si Bos memang menginginkan aku jadi ibu buat Kafka???. Oh Rabb…(aku kok jadi senyum-senyum begini).
Gimana gak aku berpikiran sedemikian rupa, habis si Bos tiap hari nanyain biodataku mulu, dari kegiatanku sehari-hari di luar kerja sampai kondisi lingkungan dan keluargaku, tidak puas apa si Bos dengan data yang sudah ada di file kantor, aku jadi GR ney, hehe.
Bingung jadinya, sekarang yang diliput siapa sih, aku atau Alghi, kok sepertinya aku yang banyak di interview sama si Bos. Belum lagi ditambah Alghi nan sombong, ihhh, gerem!!!. Senyum saja gak mau, aku kan cuma berusaha seramah mungkin, masa pas aku senyumin dia malah buang muka, nyebelin banget kan?. Baru jadi pesepak bola nasional, gimana coba kalau dunia Internasional mengenalnya, tidak bisa kubayangkan,
Sabar lex….sabar.

13 September 2009
Eh….eh…., si Bos makin gencar saja kayaknya, lama-lama capek juga ladenin pertanyaan si Bos. Gak tau apa dia aku ini aktivis dakwah, kalau memang naksir aku ya sudah, bilang saja langsung sama murobbiku2, tapi si Bos mana ngerti istilah murobbi ya???
Belum lagi dengan Kafka, kayaknya si Bos berusaha keras supaya aku bisa dekat sama Kafka, masa Kafka dibawa ke lokasi shooting dan kalau Kafka ingin ini itu, aku yang disuruh ngurusin, aku kan reporter yang lagi meliput seorang atlet yang sok cool bukan babby sitter Bos.

Sebenarnya sih tidak masalah kalau aku disuruh ngurusin Kafka karena memang aku suka banget sama anak-anak seperti cita-citaku yang belum kesampaian menjadi psikolog anak, tapi masalahnya Alghi si atlet yang tidak mau senyum itu malah sering mentertawakan aku pas ngurus Kafka, memang, aku suka dan sering berinteraksi dengan anak-anak, tapi kalau ngurus keperluan seorang anak berusia dua tahun dari A sampai Z aku kerepotan juga, inikan pertama kalinya bagiku, dasar atlet tidak punya perasaan, aku kan malu kalau sering diketawain begitu, lihat saja nanti kalau kamu sudah punya anak dan istrimu tidak pernah belajar ngurusin anak seperti aku sekarang ini, kujamin deh kalian bakalan kerepotan dan gantian aku yang bakalan mentertawakan kamu, ilmu tendang menendang bolamu itu tidak berguna untuk urusan yang satu ini. Tenang lex…tenang. Don’t be angry!

15 September 2009
Hari ke lima meliput Alghi, dan hari ke tiga si Bos bawa Kafka ke lokasi, kayaknya aku sudah mulai sayaaaaang banget sama Kafka, walaupun baru tiga hari bersama, kami sudah bisa dekat, aku juga heran, tumben anak kecil seperti Kafka ini bisa cepat ditaklukinnya. Deg, jantungku berdetak, kencang, sedikit menyesakkan, apa ini pertanda???
Ini memang memperkuat dugaanku tentang si Bos, apa iya si Bos bakal jadi teman hidupku, jadi orang yang selalu ada di sampingku, aku tidak menyangka bakal langsung punya anak umur dua tahun, ini berarti doaku tiap malam untuk ditemani oleh seorang hamba Allah yang aktifis dakwah nan tangguh, seorang yang akan menuntunku untuk lebih dekat dan mencintai Rabbku tidak diijabah3?. Dan kalau si Bos, kayaknya malah aku yang harus menuntun dia untuk mengenal dakwah, hikz….hikz.
Tapi kalau dilihat-lihat si Bos rajin juga sholatnya, malah pernah jadi imam sama Alghi, si atlet arogan itu rupanya juga sholat, keren….keren, kan jarang ada atlet yang menyempatkan sholat di tengah-tengah latihannya.



17 September 2009
Hari perpisahan kami sama Alghi tapi sepertinya aku belum dapat kesan positif dari dia, bagaimana mau buat laporan semenarik mungkin tentang Alghi, kemarin saja pas aku tanya ini itu tentang kesehariannya dan ini masuk dalam salah satu tugasku sebagai reporter, dia cuma jawab dengan sangat-sangat singkat dan tanpa ada ekspresi, kirain dia sudah jadi mayat hidup yang baru dikeluarin dari kulkas saking sok coolnya.
Dan yang buat aku terkejut, pas perpisahan tadi Alghi nyamperin dan minta maaf, aku juga dikasi bonus senyuman dia, meski tidak manis-manis amat tapi lumayanlah dari pada dia nunjukin muka tanpa ekspresinya ih…, kan serem.
Aku jadi lega, kukira aku cuma dapat pengalaman buruk saja selama meliput Alghi tapi Alhamdulillah masih ada pengalaman bagusnya meskipun di detik-detik terakhir, jadi sekarang aku sudah bisa buat laporan yang menarik tentang seorang atlet bernama Alghi.

25 November 2009
Tidit….tidit, sepertinya ada sms, oups dari kak Mashitoh, murobbiku, tumben ini kak Mashitoh nyuruh aku jumpain dia dan harus sendirian.
Sendirian???. Kata orang kalau murobbi ingin jumpa mutarobbinya4 sendirian, biasanya sebentar lagi bakal ada walimahan. Duh, aku jadi gugup ni, sepertinya feeling aku benar. Soalnya dari kemarin si Bos makin ramah saja samaku, sering nyapa sambil senyum-senyum gak jelas lagi, tapi si Bos mana mungkin ya???. Dia kan tidak mengerti apa itu murobbi, tata cara mengkhitbah5 dengan syar’i dll. Jadi siapa???

27 November 2009
Waduuuh…..makin penasaran saja, walaupun tadi jantungku sempat mau copot, nafasku seakan berhenti dan aku serasa melayang pas kak Mashitoh bilang kalau ada ikhwah yang mau mengkhitbahku, tapi siapa??? Kak Mashitoh tidak mau memberi tau, dia hanya bilang kalau aku sudah kenal dan dia hanya ingin memastikan kalau aku sudah siap atau belum untuk melaksanakan ta’aruf6. Umurku sekarang 24 jalan 25, aku sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari karena hal ini memang sudah kunanti dari usia 23, hehe.

1 Desember 2010
Semalaman aku tidak bisa tidur, kutenangkan batin dan hatiku yang lagi kacau balau dengan menjumpai Robbku di pertiga malam.

2 Desember 2010
“Assalamualaikum, kak sepertinya Lexa sedikit terlambat karena jalanan macet, afwan7”, ku kirim via sms ke nomor handphone kak Mashitoh.
Aku memasuki rumah kak Mashitoh dengan dzikir tanpa henti (kayak mau jumpa jin saja, hehe) dan waktu kakiku menginjakkan teras kak Mashitoh, aku mendengar suara khasnya si Bos, “ya Robb kupasrahkan semua padaMU, kalau si Bos memang jodohku, berikanlah ia hidayah untuk menjadi seorang da’i yang tangguh”, gumamku dalam hati.
Setelah mengucapkan salam, kak Mashitoh mempersilahkan aku untuk duduk, aku terlambat 20 menit dari perjanjian, kulirik orang di sekitarku kudapati si Bos sedang melihat ke arahku sambil tersenyum simpul, mata kami bertemu, nyessssss…..rasanya aku mau pingsan, aku juga merinding bukan karena senyumnya Mr.Zoe horor, tapi mungkin hormon di badanku ikutan grogi sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Tiba-tiba Alghi si atlet arogan yang sedikit baik itu nongol dari belakang dengan muka dan kedua tangan yang basah, sepertinya dia baru selesai mengambil air wudhu. Duuuhhh, ngapain juga itu anak ada disini???.
“Assalamualaikum wr wb”
Salam si Bos menghentikan otakku yang sedang berspekulasi sendiri dengan dunianya. Panjang lebar bos bercerita tentang awal dia jumpa aku di kantor, tentang bagaimana cara dia mengetahui kepribadianku, dan cara dia ngetes aku apakah sudah pantas untuk jadi istri seorang atlet dan jadi seorang ibu yang baik. “Stop…tiba-tiba otakku menggaris bawahi kata ‘seorang atlet’, seorang atlet?”.
Jadi ikhwah yang dimaksud kak Mashitoh bukan Mr.Zoe tapi si atlet arogan itu, tapi jujur sejak pertama kali jumpa sama Alghi aku memang merasakan suatu bentuk baru dari kebahagiaan, dan satu hal lagi, nyaman dan damai banget apalagi kalau lagi ngobrol atau lebih tepatnya wawancara sama dia. Tapi semua rasa itu sebisa mungkin kutepis, apalagi melihat dia yang seorang atlet dan yang kukira bukan seorang aktivis dakwah. Dan sekarang semua sudah jelas, si Bos ternyata teman semasa kuliahnya mas Taufik, suaminya kak Mashitoh, dan Alghi teman semasa SMAnya si Bos, dan liputan itu adalah sebuah kesengajaan. Skenario yang indah  tapi sedikit menyebalkan rancangan si Bos.
Dan ketiganya merupakan aktivis dakwah, bahkan Alghi yang kuanggap oon dakwah mengisi dua kelompok halaqoh8 di sela-sela aktifitasnya sebagai atlet sepak bola, salut deh buat calon suamiku tersayang, hehe.

9 Februari 2010
Ijab Qabul sudah diucapkan, Alghi yang sudah jadi suamiku semenit yang lalu liatin aku terus, bukan karena aku dandan cantik tapi karena sebelum dan sesudah ijab qabul mataku tidak mau berhenti mengeluarkan air mata kebahagiaan. Alghi suamiku yang merupakan seorang atlet merupakan surprise terindah dari Allah yang kutemukan di jalan dakwah ini. Syukurku selalu dalam hati atas SURPRISE CINTA DARI ALLAH, ROBBKU TERCINTA.

1Kaffah : secara menyeluruh
2Murobbi : ustadzah/pendidik
3Diijabah : dikabulkan
4Mutarobbi : yang dididik
5Khitbah : lamaran
6Ta’aruf : proses saling kenal untuk menuju jenjang pernikahan
7Afwan : maaf
8Halaqoh : Kelompok pengajian 

Diselesaikan : Oktober 2009 
Oleh :  Juni Esti Siregar (Mahasiswa Psikologi UMA, Medan)

Minggu, 17 November 2013

JIKA



Allah…
Jika esok aku masih diberi kesempatan untuk membuka mata,
Akankah esok  akan lebih baik dari hari ini…?
Allah…
Jika esok Engkau masih memberiku nafas,
Akankah tiap hembusannya disertai namaMU…?
Allah…
Jika esok ruh ini masih bertahta dalam raga,
akankah ia akan tetap bersujud padaMu…?
Allah…
Aku hanya ingin dihembusan terakhir nafasku ada asmaMu.
Hanya itu….
Hanya itu yang ku ingin….

 
Medan, 17 Maret 2010

Jumat, 15 November 2013

Nada Cinta



Kukirimkan rangkaian nada cinta untuknya
Agar ia tau,
Ada aku di sini yang selalu mencintainya

Angin berhembuslah,
Bawalah nada-nada cintaku padanya
Sentuhlah ia,
Agar ia dapat merasakannya

Robbi…
Sampaikan juga padanya tentang nada cinta yang selalu kuucapkan di setiap doaku
Ayah,
Sudahkah engkau mendengar nada cintaku???


#Medan, 05 Januari 2011