Laman

Sabtu, 22 Maret 2014

SURPRISE CINTA



"Waduuuh… Ternyata jadi reporter ribet juga ya”. Keluhku pada Sanjaya, juru kamera yang selalu ada di sampingku, kemana-mana kami selalu bersama, kalau kata orang nih, kami lengket kayak prangko, hehe.
Inilah aku Alexa Lovato, muslimah yang hijrah secara kaffah1 di waktu kuliah dulu, aku anak Psikologi yang bercita-cita jadi psikolog anak, tapi nyasar jadi reporter, entahlah mungkin takdir yang membawaku ke dunia ini, dunia yang penuh dengan tantangan. Semangat!!!

25 Juni 2009
Inilah hari pertamaku jadi seorang reporter muda alias junior, teman-temanku tidak ada yang percaya saat aku bilang kalau aku diterima di salah satu stasiun TV sebagai reporter, kebanyakan mereka komentar soal jilbabku, apa gak gerah dengan cuaca yang amat sangat panas, apa gak berkibar tuh jilbab kalau lagi lari-lari ngejar sumber  info atau tersangkut di pagar orang pas lagi meliput atau ditarik sama anak-anak dikirain layangan, dll. Banyak deh komentar-komentar aneh yang menggelikan tentunya. Bagiku semua itu adalah bunga-bunga kehidupan.

7 September 2009
Tugas pertamaku yang bikin nervous bin deg-degkan karena stasiun TV kami satu-satunya yang diperbolehkan meliput kehidupan sehari-hari salah seorang pemain sepak bola nasional yang lagi hot-hotnya diperbincangkan masyarakat yang dalam waktu dekat akan mengikuti kejuaraan Internasional, ckckcckk….aku masih belum percaya dikasih tugas sepenting ini, aku kan masih baru di dunia ini, tapi bosku bersikeras kalau aku orang yang paling tepat untuk tugas ini. Okelah Bos kalau begitu, saya akan berusaha memberikan yang terbaik.
Mmm… Amanah pertama yang penuh tantangan, mudah-mudahan ini bisa menjadi batu loncatan agar aku bisa lebih kompeten. Liputan ini pasti cukup melelahkan karena aku akan meliput kehidupan sehari-hari seorang atlet yang super sibuk dari terbit sampai terbenam matahari, dari mau tidur sampai tidur lagi,  selama seminggu. Seminggu....!!!
Duuuhhh…..terasa makin berat saja ini tugas.

9 September 2009
Besok  pertempuran sudah dimulai, ngisi amunisi dulu ah…. Tahajjud dengan bumbu tilawah secukupnya  kurang lebih 1 juz. Mudah-mudahan tugasku ini bisa berjalan dengan lancar, amin.

10 September 2009
Gak nyangka reporter kelas teri seperti aku ini bisa jadi bahan obrolan teman-teman sekantorku. Bahkan reporter papan atas juga ikutan ngegosipin reporter papan pintu ini!!! hehe. Heran…heran.
Sebagai wanita berjilbab kain gorden (kata rekan kerjaku dalam guyonannya,hehe) yang satu-satunya di tempat kerjaku ini, aku hanya menanggapi dengan senyuman. Aku tidak habis pikir bakalan digosipin sama si Bos cuma gara-gara Bos ngasi tugas ini!!!
Aku sech gak apa-apa, santai saja, memang tidak ada apa-apa. Tapi si Bos kasian dia. Mr. Zoe begitulah aku memanggil bosku, di usianya yang masih cukup muda, 28 tahun, ia sudah ditinggal oleh istri tercinta, lebih kasian lagi Kafka, bocah yang baru berumur dua tahun itu sudah tidak bisa merasakan dekapan seorang ibu, lembut belaiannya, hangatnya ciuman dan perhatiannya. Uuhh...jadi sedih, ingat ibu di kampung.
Baru dua bulan yang lalu si Bos ditinggal mbak Ayu, istrinya, air matanya pun belum kering, eh….sudah digosipin sama anak-anak, ckckck, teganya, tega…tega….tega!!!
Tega banget sech ngegosipin aku ada hubungan spesial sama Bos, sampai ada yang bilang Bos ngasi tugas ini supaya bisa PDKT, karena menurut mereka si Bos lagi nyari ibu baru buat Kafka, katanya sih kriterianya tidak jauh-jauh dari mbak Ayu, meski jilbabnya almarhumah mbak Ayu gak sepanjang jilbabku tetapi sudah memenuhi kriteria jilbab syar’i, nah, itu dia alasan mereka.
Pinter banget ya mereka kait mengkaitkan kondisi orang, jadi kesal juga nih. Biarkanlah apa kata mereka seperti kata pepatah “anjing menggonggong kafilah berlalu”

11 September 2009
Tidak terasa dua hari sudah berlalu dengan terus mengikuti kegiatan si pesepak bola, Alghi, biasa ia dipanggil, tapi aku mulai merasa tidak nyaman, apa mungkin gosip yang kuanggap murahan itu ternyata benar adanya, si Bos memang menginginkan aku jadi ibu buat Kafka???. Oh Rabb…(aku kok jadi senyum-senyum begini).
Gimana gak aku berpikiran sedemikian rupa, habis si Bos tiap hari nanyain biodataku mulu, dari kegiatanku sehari-hari di luar kerja sampai kondisi lingkungan dan keluargaku, tidak puas apa si Bos dengan data yang sudah ada di file kantor, aku jadi GR ney, hehe.
Bingung jadinya, sekarang yang diliput siapa sih, aku atau Alghi, kok sepertinya aku yang banyak di interview sama si Bos. Belum lagi ditambah Alghi nan sombong, ihhh, gerem!!!. Senyum saja gak mau, aku kan cuma berusaha seramah mungkin, masa pas aku senyumin dia malah buang muka, nyebelin banget kan?. Baru jadi pesepak bola nasional, gimana coba kalau dunia Internasional mengenalnya, tidak bisa kubayangkan,
Sabar lex….sabar.

13 September 2009
Eh….eh…., si Bos makin gencar saja kayaknya, lama-lama capek juga ladenin pertanyaan si Bos. Gak tau apa dia aku ini aktivis dakwah, kalau memang naksir aku ya sudah, bilang saja langsung sama murobbiku2, tapi si Bos mana ngerti istilah murobbi ya???
Belum lagi dengan Kafka, kayaknya si Bos berusaha keras supaya aku bisa dekat sama Kafka, masa Kafka dibawa ke lokasi shooting dan kalau Kafka ingin ini itu, aku yang disuruh ngurusin, aku kan reporter yang lagi meliput seorang atlet yang sok cool bukan babby sitter Bos.

Sebenarnya sih tidak masalah kalau aku disuruh ngurusin Kafka karena memang aku suka banget sama anak-anak seperti cita-citaku yang belum kesampaian menjadi psikolog anak, tapi masalahnya Alghi si atlet yang tidak mau senyum itu malah sering mentertawakan aku pas ngurus Kafka, memang, aku suka dan sering berinteraksi dengan anak-anak, tapi kalau ngurus keperluan seorang anak berusia dua tahun dari A sampai Z aku kerepotan juga, inikan pertama kalinya bagiku, dasar atlet tidak punya perasaan, aku kan malu kalau sering diketawain begitu, lihat saja nanti kalau kamu sudah punya anak dan istrimu tidak pernah belajar ngurusin anak seperti aku sekarang ini, kujamin deh kalian bakalan kerepotan dan gantian aku yang bakalan mentertawakan kamu, ilmu tendang menendang bolamu itu tidak berguna untuk urusan yang satu ini. Tenang lex…tenang. Don’t be angry!

15 September 2009
Hari ke lima meliput Alghi, dan hari ke tiga si Bos bawa Kafka ke lokasi, kayaknya aku sudah mulai sayaaaaang banget sama Kafka, walaupun baru tiga hari bersama, kami sudah bisa dekat, aku juga heran, tumben anak kecil seperti Kafka ini bisa cepat ditaklukinnya. Deg, jantungku berdetak, kencang, sedikit menyesakkan, apa ini pertanda???
Ini memang memperkuat dugaanku tentang si Bos, apa iya si Bos bakal jadi teman hidupku, jadi orang yang selalu ada di sampingku, aku tidak menyangka bakal langsung punya anak umur dua tahun, ini berarti doaku tiap malam untuk ditemani oleh seorang hamba Allah yang aktifis dakwah nan tangguh, seorang yang akan menuntunku untuk lebih dekat dan mencintai Rabbku tidak diijabah3?. Dan kalau si Bos, kayaknya malah aku yang harus menuntun dia untuk mengenal dakwah, hikz….hikz.
Tapi kalau dilihat-lihat si Bos rajin juga sholatnya, malah pernah jadi imam sama Alghi, si atlet arogan itu rupanya juga sholat, keren….keren, kan jarang ada atlet yang menyempatkan sholat di tengah-tengah latihannya.



17 September 2009
Hari perpisahan kami sama Alghi tapi sepertinya aku belum dapat kesan positif dari dia, bagaimana mau buat laporan semenarik mungkin tentang Alghi, kemarin saja pas aku tanya ini itu tentang kesehariannya dan ini masuk dalam salah satu tugasku sebagai reporter, dia cuma jawab dengan sangat-sangat singkat dan tanpa ada ekspresi, kirain dia sudah jadi mayat hidup yang baru dikeluarin dari kulkas saking sok coolnya.
Dan yang buat aku terkejut, pas perpisahan tadi Alghi nyamperin dan minta maaf, aku juga dikasi bonus senyuman dia, meski tidak manis-manis amat tapi lumayanlah dari pada dia nunjukin muka tanpa ekspresinya ih…, kan serem.
Aku jadi lega, kukira aku cuma dapat pengalaman buruk saja selama meliput Alghi tapi Alhamdulillah masih ada pengalaman bagusnya meskipun di detik-detik terakhir, jadi sekarang aku sudah bisa buat laporan yang menarik tentang seorang atlet bernama Alghi.

25 November 2009
Tidit….tidit, sepertinya ada sms, oups dari kak Mashitoh, murobbiku, tumben ini kak Mashitoh nyuruh aku jumpain dia dan harus sendirian.
Sendirian???. Kata orang kalau murobbi ingin jumpa mutarobbinya4 sendirian, biasanya sebentar lagi bakal ada walimahan. Duh, aku jadi gugup ni, sepertinya feeling aku benar. Soalnya dari kemarin si Bos makin ramah saja samaku, sering nyapa sambil senyum-senyum gak jelas lagi, tapi si Bos mana mungkin ya???. Dia kan tidak mengerti apa itu murobbi, tata cara mengkhitbah5 dengan syar’i dll. Jadi siapa???

27 November 2009
Waduuuh…..makin penasaran saja, walaupun tadi jantungku sempat mau copot, nafasku seakan berhenti dan aku serasa melayang pas kak Mashitoh bilang kalau ada ikhwah yang mau mengkhitbahku, tapi siapa??? Kak Mashitoh tidak mau memberi tau, dia hanya bilang kalau aku sudah kenal dan dia hanya ingin memastikan kalau aku sudah siap atau belum untuk melaksanakan ta’aruf6. Umurku sekarang 24 jalan 25, aku sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari karena hal ini memang sudah kunanti dari usia 23, hehe.

1 Desember 2010
Semalaman aku tidak bisa tidur, kutenangkan batin dan hatiku yang lagi kacau balau dengan menjumpai Robbku di pertiga malam.

2 Desember 2010
“Assalamualaikum, kak sepertinya Lexa sedikit terlambat karena jalanan macet, afwan7”, ku kirim via sms ke nomor handphone kak Mashitoh.
Aku memasuki rumah kak Mashitoh dengan dzikir tanpa henti (kayak mau jumpa jin saja, hehe) dan waktu kakiku menginjakkan teras kak Mashitoh, aku mendengar suara khasnya si Bos, “ya Robb kupasrahkan semua padaMU, kalau si Bos memang jodohku, berikanlah ia hidayah untuk menjadi seorang da’i yang tangguh”, gumamku dalam hati.
Setelah mengucapkan salam, kak Mashitoh mempersilahkan aku untuk duduk, aku terlambat 20 menit dari perjanjian, kulirik orang di sekitarku kudapati si Bos sedang melihat ke arahku sambil tersenyum simpul, mata kami bertemu, nyessssss…..rasanya aku mau pingsan, aku juga merinding bukan karena senyumnya Mr.Zoe horor, tapi mungkin hormon di badanku ikutan grogi sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Tiba-tiba Alghi si atlet arogan yang sedikit baik itu nongol dari belakang dengan muka dan kedua tangan yang basah, sepertinya dia baru selesai mengambil air wudhu. Duuuhhh, ngapain juga itu anak ada disini???.
“Assalamualaikum wr wb”
Salam si Bos menghentikan otakku yang sedang berspekulasi sendiri dengan dunianya. Panjang lebar bos bercerita tentang awal dia jumpa aku di kantor, tentang bagaimana cara dia mengetahui kepribadianku, dan cara dia ngetes aku apakah sudah pantas untuk jadi istri seorang atlet dan jadi seorang ibu yang baik. “Stop…tiba-tiba otakku menggaris bawahi kata ‘seorang atlet’, seorang atlet?”.
Jadi ikhwah yang dimaksud kak Mashitoh bukan Mr.Zoe tapi si atlet arogan itu, tapi jujur sejak pertama kali jumpa sama Alghi aku memang merasakan suatu bentuk baru dari kebahagiaan, dan satu hal lagi, nyaman dan damai banget apalagi kalau lagi ngobrol atau lebih tepatnya wawancara sama dia. Tapi semua rasa itu sebisa mungkin kutepis, apalagi melihat dia yang seorang atlet dan yang kukira bukan seorang aktivis dakwah. Dan sekarang semua sudah jelas, si Bos ternyata teman semasa kuliahnya mas Taufik, suaminya kak Mashitoh, dan Alghi teman semasa SMAnya si Bos, dan liputan itu adalah sebuah kesengajaan. Skenario yang indah  tapi sedikit menyebalkan rancangan si Bos.
Dan ketiganya merupakan aktivis dakwah, bahkan Alghi yang kuanggap oon dakwah mengisi dua kelompok halaqoh8 di sela-sela aktifitasnya sebagai atlet sepak bola, salut deh buat calon suamiku tersayang, hehe.

9 Februari 2010
Ijab Qabul sudah diucapkan, Alghi yang sudah jadi suamiku semenit yang lalu liatin aku terus, bukan karena aku dandan cantik tapi karena sebelum dan sesudah ijab qabul mataku tidak mau berhenti mengeluarkan air mata kebahagiaan. Alghi suamiku yang merupakan seorang atlet merupakan surprise terindah dari Allah yang kutemukan di jalan dakwah ini. Syukurku selalu dalam hati atas SURPRISE CINTA DARI ALLAH, ROBBKU TERCINTA.

1Kaffah : secara menyeluruh
2Murobbi : ustadzah/pendidik
3Diijabah : dikabulkan
4Mutarobbi : yang dididik
5Khitbah : lamaran
6Ta’aruf : proses saling kenal untuk menuju jenjang pernikahan
7Afwan : maaf
8Halaqoh : Kelompok pengajian 

Diselesaikan : Oktober 2009 
Oleh :  Juni Esti Siregar (Mahasiswa Psikologi UMA, Medan)

Minggu, 17 November 2013

JIKA



Allah…
Jika esok aku masih diberi kesempatan untuk membuka mata,
Akankah esok  akan lebih baik dari hari ini…?
Allah…
Jika esok Engkau masih memberiku nafas,
Akankah tiap hembusannya disertai namaMU…?
Allah…
Jika esok ruh ini masih bertahta dalam raga,
akankah ia akan tetap bersujud padaMu…?
Allah…
Aku hanya ingin dihembusan terakhir nafasku ada asmaMu.
Hanya itu….
Hanya itu yang ku ingin….

 
Medan, 17 Maret 2010

Jumat, 15 November 2013

Nada Cinta



Kukirimkan rangkaian nada cinta untuknya
Agar ia tau,
Ada aku di sini yang selalu mencintainya

Angin berhembuslah,
Bawalah nada-nada cintaku padanya
Sentuhlah ia,
Agar ia dapat merasakannya

Robbi…
Sampaikan juga padanya tentang nada cinta yang selalu kuucapkan di setiap doaku
Ayah,
Sudahkah engkau mendengar nada cintaku???


#Medan, 05 Januari 2011

Selasa, 12 Februari 2013

Golput Itu Solusi, Makanya Ayo Milih…!!!

Waktu terus berjalan, mesin-mesin penggerak mulai dipanaskan, roda-roda mulai berjalan menyusuri jengkal demi jengkal tanah di bumi Allah, benderapun dikibarkan, takbir perjuangan telah diteriakkan,  dan perang pun telah dimulai.
Masyarakatpun melambai tapi tidak sedikit juga yang memalingkan muka, bagiku mereka yang memalingkan muka dari perhelatan ini adalah orang-orang yang harus kita kasihi, kita rangkul, kita didik karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mungkin belum siap menerima segala konsekuensi atas pilihan atau tindakannya, lihatlah betapa tidak dewasanya ia, menentukan pilihan saja ia tidak bisa, bukankah mereka adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita???

Yah…bagi mereka golput adalah solusi, saya katakan benar. Golput memang solusi, solusi untuk kemunduran, solusi untuk kehancuran, solusi untuk mempercepat carut marut di tengah masyarakat. Negeri ini tegak dalam NKRI, bukan suatu hal yang mudah untuk mendapatkannya, untuk menyatukannya, lantas apakah karena kekecewaan kita terhadap pemimpin-pemimpin kita lantas kita langsung golput, langsung acuh tak acuh, bagiku kamulah salah satu PR pemerintah, MENAMBAH BEBAN PEMERINTAH DENGAN SIKAPMU ITU.

Untuk golputers yang selalu menyarankan orang-orang untuk ikut-ikutan golput, maka bangunlah dari mimpi burukmu itu, tidak adanya pemilihan alias golput bukankah akan berdampak luar biasa?? Jangankan untuk negeri untuk lingkup Sumut saja sudah sangat menakutkan. Tidak ada pemilihan berarti tidak adanya pemimpin yang sah yang diakui oleh rakyatnya, lantas siapa yang akan mengkoordinir jika suatu saat misalnya nauzdubillah mindzalik terjadi bencana, terjadi banjir, siapa yang bisa kita mintai tolong, kita mintai pertanggung jawabannya, belum paham juga??

Saya kasih lingkup yang lebih kecil lagi deh. Traffic Light sebagai pemimpin dan jalan raya sebagai suatu negara, lihatlah ketika Traffic Light mati, dimana-mana terjadi kemacetan, satu dan yang lain saling beradu, sama-sama merasa paling berhak untuk jalan terlebih dahulu, atau bahkan ada yang sudah berjam-jam berada ditengah kemacetan karena tidak bisa bergerak sama sekali, bukankah sudah terjadi banyak kedzaliman yang tidak disengaja disana.

Lihat ketika Traffic Light hidup seperti biasa, jalanan teratur, tidak peduli itu mobil mewah, becak atau bahkan angkot ketika itu merah maka kamu harus berhenti dan ketika ia hijau maka kamu harus melaju, yang paling saya tidak suka adalah kuning, tidak jelas fungsinya apakah kendaraan harus berhenti atau melaju lebih cepat??

Dan bagi saya golputers adalah warna kuning dalam system Traffic Light atau abu-abu dalam system warna, katanya golput, tidak percaya pemerintah tapi menikmati fasilitas publik yang notabennya hasil karya pemerintah, jalan raya itu area publik, halte, sekolah, rumah sakit, taman kota, dll. Oia lupa, lihat KTPnya donk pasti ngurusnya ama pemerintah, hehehe.

Bukan ingin menghakimi, hanya ingin berbagi. Think before you do. ^_^

Medan, 13 Februari 2013
_Anak Bangsa_

Rabu, 06 Februari 2013

Lowongan Pekerjaan

DIBUTUHKAN SEGERA

Perusahaan yang sedang berkembang bergerak di bidang jasa membutuhkan segera beberapa orang sebagai:

1. Staf Keuangan (a,c,d,e,f,g) untuk di tempatkan di Serang Banten.
2. Perawat Rumah Sakit (a,c,e,g,h)

Dengan syarat-syarat sebagai berikut:

a) Wanita
b) Laki-laki
c) Beragama Islam
d) Pendidikan min. D3 atau S1 Akutansi/Management
e) Pengalaman kerja min 1 Tahun
f) Dapat mengoperasikan komputer Word, Excel dll
g) Jujur, bertanggung jawab dan loyal terhadap perusahaan
h) Pendidikan min D3 Keperawatan

Surat lamaran lengkap dengan nomor telepon yang dapat dihubungi. Lamaran dialamatkan ke Yayasan RSU.Helvetia, Jl. Kapten Sumarsono No.107 Medan. Up: HRD. Paling lambat 2 (dua) minggu setelah iklan terbit.

Medan, 6 Februari 2013

Hormat Kami

Darwani, SE

Minggu, 30 Desember 2012

Pidota Wisudawan Periode I Tahun 2012



Oleh : Juni Esti Siregar

Assalamualaikum wr.wb
Yth :
  1. Bapak/Ibu Pengurus Yayasan Pendidikan Haji Agus Salim
  2. Koordinator Kopertis Wilayah I Aceh – Sumatera Utara
  3. Rektor Universitas Medan Area
  4. Bapak/Ibu Wakil Rektor Universitas Medan Area
  5. Bapak/Ibu Dekan Fakultas di Universitas Medan Area
  6. Bapak/Ibu Dosen dan Karyawan Universitas Medan Area
  7. Bapak/Ibu orangtua kami serta seluruh wisudawan yang saya cintai

“Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin”
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang selalu menganugrahkan nikmatnya kepada kita dan yang akan menambahkan nikmat bagi hambaNya yang senantiasa bersyukur, maka jadilah insan yang penuh dengan rasa syukur. Subhanallah, mahasuci Allah yang tidak pernah tidur, tidak pernah istirahat yang senantiasa menjaga kita, mengawasi kita, menyeimbangkan bumi tempat kita berpijak saat ini.
’Setiap langkah adalah sejarah yg kau tulis sendiri diatas jelagamu’. Hadirin yang saya hormati, perkenalkan saya Juni Esti Siregar dari fakultas Psikologi Stambuk 2008. Saya sangat bangga dan bersyukur bisa hadir dan berdiri di tengah-tengah orang yang luar biasa seperti kalian. Alhamdulillah dihari yang berbahagia ini, hari yang kita nanti-nantikan setelah menyelesaikan salah satu kewajiban kita sebagai anak dan juga sebagai mahasiswa. Saya yakin dan percaya untuk mencapai hari ini bukanlah hal yang sederhana, butuh kerja keras dan perjuangan yang luar biasa dari diri kita. Tapi, akhirnya semua pengorbanan dan kerja keras selama menuntut ilmu di UMA ini terbayar sudah melihat senyum bahagia orang-orang tecinta.
Hadirin yang berbahagia, pada kesempatan ini pula saya mewakili teman-teman wisudawan/wisudawati ingin mengucapkan rasa terimakasih kami yang sebesar-besarnya untuk dosen-dosen selaku orang tua kami disini dan atas ilmu yang telah diberikan. Terlalu banyak hal yang telah kalian beri tanpa kalian membedakan kami ini anak siapa. Kami yang tidak tahu apa-apa kini berubah menjadi tahu itu apa. Terlalu banyak juga kesalahan yang telah kami buat dan kami sadar akan kesalahan itu. Dari lubuk hati yang terdalam kami mohon maaf. Hanya Allah yang mampu membalasNya. Dan untuk civitas akademika terimakasih, hari-harimu yang engkau sibukkan dengan kami para mahasiswa. Maaf jika kami berbuat yang tidak seharusnya kami perbuat.
Memutar kembali memori ketika pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan kampus, ada rasa cemas dan khawatir akan kah aku mampu untuk melewati ini?? Tapi seperti itulah hidup, akan ada masalah demi masalah yang akan menghampiri, silih berganti tanpa henti karena pada hakikatnya hidup tanpa masalah itu adalah kematian, dan karena masalah itu jualah yang menjadi jembatan bagi kita untuk mendewasakan diri, bagiku masalah tidak lah lebih dari pada sebuah latihan untuk menjadi yang lebih baik dan lebih dewasa. Dan setelah kelulusan ini, maka dihadapan kita sudah menanti masalah yang ingin diselesaikan, kelulusan ini bukanlah goal kita tapi inilah awal dan bekal kita untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.
Teman-teman para wisudawan dan wisudawati yang saya hormati, satu fase kehidupan telah kita selesaikan itu berarti akan ada fase-fase lain yang telah menunggu kita untuk menyelesaikannya, di luar sana akan banyak kita hadapi rintangan demi rintangan, batu dan duri pun akan menjadi hiasan perjalanan kita ini, tapi yakinlah selama kita percaya pada mimpi-mimpi kita maka ia akan jadi nyata pada waktunya. Dan karena setiap langkah adalah sejarah yg kau tulis sendiri diatas jelagamu.
Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan akan memiliki resiko. Awal memasuki perkuliahan saya memilih untuk menjadi mahasiswa yang aktif baik di internal maupun di eksternal kampus, beberapa organisasi saya ikuti untuk menempah diri menjadi pemenang. Organisasi menuntut banyak perhatian dan waktu tapi disinilah saya belajar arti pengorbanan, tanggung jawab, dan persaudaraan. Pun dari organisasi inilah titik ledakan untuk memacu diri agar lebih semangat untuk menyongsong masa depan, sebab kita lah yang akan menetukan apakah kita akan mampu menjadi bagian dari sejarah atau tidak sama sekali dan karena setiap langkah adalah sejarah yang kau tulis diatas jelagamu.
Sahabatku, wisudawan dan wisudawati yang berbahagia, saya sangat senang membaca biografi orang-orang besar di dunia, pernah satu kali seorang tokoh berkata ”you are what you thing, kamu adalah apa yang kamu pikirkan” hal ini sejalan dengan salah satu hadits qudsi yang menyatakan ”Allah sesuai dengan prasangka hambaNya”, hal ini memotivasi saya untuk terus berpikir positif bahwa saya akan menjadi orang sukses, bahwa saya pasti bisa, bahwa saya mampu melalui ini semua, dan Alhamdulillah satu persatu mimpi-mimpi yang pernah saya tuliskan dalam lembaran catatan harian mulai terwujud.
Saudaraku, wisudawan-wisudawati yang saya cintai, apapun adanya kita saat ini maka teruslah bersyukur sambil senantiasa terus memperbaiki diri karena tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi insan yang lebih baik, yang lebih bermanfaat, yang lebih berdaya guna. Sahabatku, jangan pernah menyerah, teruslah berjuang untuk mencapai cita demi orang tersayang, Ibu dan Ayah yang telah berjuang untuk kita hingga sampai di titik ini, yang telah ­mengorbankan apa yang mereka punya untuk kesuksesan kita, yang rela bersusah-susah mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk memperjuangkan kita di perantauan ini.
Untuk orang tua kami, Ibu dan Ayah. Hari ini adalah untukmu. Berjuta langkah yang telah engkau langkahkan hingga ada hari ini untukku. Berjuta peluh dan keringat yang telah keluar untuk anakmu ini. Beragam pikiran yang terus menerus ada dikepalamu untuk ada hari ini. Terimakasih yang tulus dariku, dari kami anakmu yang telah engkau sayangi melebihi rasa sayang pada dirimu sendiri. Untuk segala cinta, nasihat dan do’a yang tiada henti engkau panjatkan. Ayah dan ibu. Kuingin bahagiaku terus mengalir dalam jiwamu, di hatimu dan sedikit menghapus airmata karena anakmu ini. Terimakasih. Tidak hari ini tanpamu. Terkhusus untuk orang tuaku, terima kasih atas semua yang telah kalian berikan, Allah lah yang akan membalasnya.
Sahabatku, wisudawan dan wisudawati Universitas Medan Area, sekarang kita telah menyandang gelar sarjana, atau alumni Universitas Medan Area, diluar sana kita akan bertebaran berbagi ilmu, mengaplikasikan ilmu dan berhubungan dengan banyak orang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, maka saya berharap kita sama-sama bisa menjaga nama baik kampus kita, almamater kita, Universitas Medan Area. Karena orang bisa memberikan penilaian untuk kampus kita hanya dengan melihat bagaimana kita, dan sikap kita di luar sana.
Sahabatku, sukses berarti melakukan yg terbaik yang kita bisa dengan apa yang kita miliki. Bukan dengan menginginkan apa yang orang lain miliki. Maka jangan mengeluhkan masalah, karena Tuhan mempunyai tujuan tuk perjuanganmu saat ini. Pelajarilah apa yang hendak Tuhan ajarkan, karena setelah itu maka kamu akan melihat keindahan rencana Tuhan untukmu.
Dan seperti itulah yang saya rasakan saat ini, setelah melalui jalan yang cukup terjal  dan sekarang saya bisa berdiri disini tidak lain berkat usaha dan doa orang-orang tercinta, Ibu, Ayah, saudara-saudaraku, teman-teman seperjuangan serta seluruh pihak-pihak yang mendukung dan mendoakan. Terima kasih mungkin tidak akan cukup untuk membalas semua jasa-jasa kalian, tapi hanya ucapan dan do’a lah yang mampu saya haturkan, Allahlah yang akan membalasnya terimakasih.

Wassalamualaikum wr.wb

Selasa, 18 Desember 2012

Merenda Hidup Hingga ke Syurga



“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”
Nikmat mengenal dakwah, menjadi bagian dari dakwah, menjadi jundullah, bertemu orang-orang sholeh, bertutur sapa langsung dengan orang-orang yang dicintai Allah, bagiku suatu nikmat yang luar biasa, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, saling menasihati, saling tolong menolong dalam kebaikan untuk merenda hidup yang lebih baik. Bukankah itu semua nikmat yang sangat luar biasa??

“Alhamdulillah sampe, ini dia rumah Ust. Suryanda” jelas pak Razas yang kala itu menemani kami untuk berkunjung, mataku langsung mencuri pandang dari balik kaca mobil, untuk memperjelas bahwa perkataan pak Razas tadi benar, tidak meleset. Rumah yang sangat sederhana untuk ukuran anggota DPRD yang sudah duduk di kursi parlemen 2 periode. Perlahan kami memasuki halaman rumah yang tidak begitu luas, hanya ada sebuah ayunan duduk punya anak-anak PAUD, rumah yang tidak begitu besar ini juga dimanfaatkan sebagai PAUD gratis. Akhiranya aku dan kedua rekanku bersantai sejenak, menikmati buaian angin sore ditemani rujak sambil menunggu yang empunya rumah yang sedang dalam perjalanan pulang. Berselang 5 menit, sebuah becak berhenti tepat di depan pagar rumah, aku sempat memperhatikan ketika pak Razas menghampiri becak, ternyata sosok yang turun dari becak itu adalah yang empunya rumah, Ust. Suryanda.
Beliau langsung menyapa kami dan mempersilahkan masuk. Tamu adalah raja, beliau benar-benar mempraktekkannya, menyuguhkan minuman dan berkali-kali menawari makanan dan berkali-kali juga kami menolaknya. Dan hal yang pertama kali kutangkap adalah tutur kata beliau yang lembut, tata bahasanya sopan, intonasinya  teratur dan tertata, menandakan bahwa ia benar-benar menjaga sikapnya dari hal yang terkecil sekalipun.

Menapak tilasi kehidupan beliau akan banyak pelajaran yang diperoleh, terlahir dari keluarga dan lingkungan yang religius dan di usianya yang masih sangat muda, 3,5 tahun beliau sudah menjadi yatim, sang ayah telah kembali kepada Pemiliknya, kepada Sang Pencipta, membuat sosok yang satu ini ‘matang’ lebih awal dari pada teman-teman sebayanya. Tumbuh tanpa ayah disamping tak membuatnya jadi anak yang kurang kasih sayang, karena tidaklah Allah akan menelantarkan hamba-hambaNya dan bukankah Sang Rasul juga mengatakan bahwa Rasul sendirilah yang menjadi ayah dari anak-anak yatim itu, subhanallah….lihatlah betapa istimewanya mereka, berayahkan Rasul, manusia pilihan. Manusia pilihan untuk orang-orang pilihan.
Masa kecilnya berbeda dengan teman sebayanya, dikala semua temannya bermain dengan asyiknya, tapi ia hanya bisa berdiam diri, bukan karena ia tidak mau atau tidak bisa berlarian kesana kemari dengan lincahnya, tapi karena ia harus menunggui es lilin yang ia jajakan sekedar untuk membantu orang tuanya. Ia akan menjadi pusat perhatian teman-temannya ketika permainan hampir usai, ketika haus sudah mulai merasuki satu persatu jiwa-jiwa yang sedang berbahagia dengan permainannya, maka inilah moment saat beliau menjadi serbuan teman-temannya. Disekolah, bukan hanya sekali dua kali beliau mencuci mangkok bubur yang dijajakan di depan sekolah, jika menginginkan bubur dengan berlapang dada, beliau akan menawarkan jasa untuk mencuci mangkok bubur, yaaa….demi semangkok bubur.
Dikala beliau membutuhkan buku untuk latihan, bukan buku baru yang ia dapat melainkan kumpulan buku-buku tulis bekas, satu persatu buku-buku itu kembali dibuka, lembar demi lembar di periksa untuk mencari lembaran yang masih kosong. Lembaran-lembaran kosong itu kemudian akan diambil dan dikumpulkan dengan menjahitnya menjadi satu, terciptalah satu buku baru. Subhanallah…atas dasar apa lagi kita tidak bersyukur dengan nikmat yang sekarang???
Begitulah cara Allah mencintai orang-orang yang Ia pilih meneruskan risalah Sang Rasul, diusianya yang masih sangat dini, ia sudah ditempah menjadi pribadi yang tangguh, pribadi yang pantang menyerah dan selalu diajarkan untuk tetap bersyukur. Seperti Sang Rasul yang juga ditempah bahkan sejak ia masih dalam kandungan ibunya, Siti Aminah. Bukankah ada rencana dibalik setiap skenario yang Allah tetapkan untuk hamba-hambanNya???.

Nda, panggilannya di rumah, selalu teringat akan pesan budenya “miskin itu bukan aib”, maka beliapun semakin termotivasi untuk terus bekerja tanpa ada rasa malu ataupun gengsi, terkadang ia dan adiknya jualan nangka kalau lagi sedang berbuah, semua yang bisa ia lakukan akan dilakukan untuk sekedar membantu ibunya.
Menginjak usia remaja, bakatnya menjadi da’i mulai terlihat, di SMP ia selalu dapat jatah untuk memimpin do’a baik itu ketika upacara yang diadakan setiap hari senin ataupun acara-acara lain, tak pernah sekalipun ia ditunjuk sebagai pemimpin upacara, ia istiqamah dengan jatah yang diberikan gurunya, membawakan doa. Ia juga sudah mulai bersentuhan dengan dakwah melalui kegiatan-kegiatan Remaja Masjid Raya di Timbang Galo, Pematang Siantar.
Di SMA atau yang dulu dikenal dengan SMEA, prestasi demi prestasi mulai ia torehkan, menjadi ketua OSIS, menjuarai pidato-pidato, bahkan mendapatkan juara 1 Qori tingkat Provinsi Sumatera Utara, di masa SMA ini jualah beliau dipertemukan dengan seorang guru agama yang luar biasa, bagi beliau H. Aslam Al-Huda Nst sudah seperti ayah sendiri begitu juga dengan sang guru, ia sudah menggangap beliau seperti anak sendiri. Disinilah beliau dibina secara intensif oleh guru agamanya bersama dengan seorang kakak kelas beliau yang juga sekarang menjadi Ustadz yang cukup disegani sekaligus anggota DPRD Deli Serdang, Ust. Latif Khan biasa ia dipanggil. Bagi penulis, pak guru_H. Aslam adalah seorang murobbi yang sukses, seorang inspirator sekaligus seorang ayah bagi anak-anak binaannya, ia berhasil mencetak generasi Rabbani yang bahkan keduanya juga sekarang bisa duduk dikursi parlemen.
Setamat dari SMA, Allah kembali mempertontonkan skenarioNya, padahal kala itu sang guru sudah menyiapkan ruangan di belakang rumahnya untuk mengajar anak-anak iqro’, karena ia tidak mengira bahwa beliau akan bisa berkuliah dengan kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan. Beliau pun menitikkan air mata haru dan bahagia karena ternyata muridnya masih bisa melanjutkan sekolah atas bantuan adik-adik alm ayah beliau.
Dan IAIN-SU, Fakultas tarbiyah jurusan PAI menjadi pilihannya untuk menggali ilmu. Di dunia kampus, lagi-lagi Allah menunjukkan cintaNya pada hambaNya yang senantiasa bersabar, beliau dipertemukan dengan orang-orang luar biasa, melalui program Studi Islam Intensive yang merupakan recruting awal untuk menempah calon-calon da’i, disini beliau dibina oleh Ust. Idris Lutfi yang sekarang juga bernaung di bawah bendera PKS, seleksi alam pun terjadi hingga tinggallah beberapa orang yang harus dipindahkan untuk optimalisasi pembinaan dan pada titik ini beliau di pertemukan dengan sosok yang sekarang menjabat sebagai Plt. Gubernur SUMUT, pak Gatot Pujo Nugroho, di mata belia pak Gatot adalah sosok pribadi yang sederhana, jujur, hangat dan ramah. ”Bukan karena beliau sudah jadi gubernur makanya ramah tapi memang sudah dari dulu begitu”, ujar ust. Suryanda dengan senyuman khasnya.
Semasa kuliah beliau terbiasa membawa bekal atau anak medan bilang ’bontot’ yang hanya berisikan nasi dan telur yang dikasi kecap untuk menambah rasa dan masjid Baiturrahman Unimed menjadi saksinya, karena biasanya beliau makan di masjid tersebut. Terkadang beliau juga hanya memakan nasi yang hanya ditemani dengan minyak bekas atau minyak jelanta. Itu semua ia lalui dengan tanpa banyak mengeluh dan tetap bersyukur, maka Allah pun menambahkan nikmatNya.
            Sekarang bersama istri terkasih ustazdah Sri Prafanti, ia diamanahkan empat orang anak dan meski sudah menjadi anggota DPRD 2 periode, ia tidak ingin menikmati harta titipan yang diberikan padanya, ia hanya membangun rumah sederhana yang ia cita-citakan dengan sang istri ”Rumah Dakwah”, begitu ia menyebutnya, rumah yang berlantaikan semen itu baginya adalah syurga yang ia bangun dari nol, ia maksimalkan untuk dakwah, ”insyaAllah, nanti Allah yang akan bangun Istana di Syurganya kelak....”, tukas beliau dengan yakin.
Rumah sederhana ini, benar-benar menjadi Rumah Dakwah seperti cita-cita beliau, selain digunakan sebagai markas dakwah DPC PKS Medan Petisah, disamping rumah juga ada PAUD Gratis, setiap hari sabtu akan berubah menjadi rumah Qur’an, dan dirumah ini juga biasa digunakan untuk Dzikir dan Do’a bersama, ustadz yang mengetahui bahwa tim reporter baru saja lulus dari perkuliahan dan belum menikah juga menawarkan rumahnya sebagai tempat untuk walimatul ’ursy, ”...dan jika kalian nanti akan menikah, pakai saja rumah ini, kamar depan akan kami hias untuk kalian, semua gratis...” tukas beliau dengan gaya bicaranya yang khas, ”subhanallah...benar-benar rumah dakwah” gumamku dalam hati.
Setengah jam yang singkat telah berlalu, masih banyak hal yang ingin ditanyakan, tapi waktu tak kan bisa diundur, adzan Magrib kan berkumandang, dengan berat hati kami pun berpamitan dengan segudang pertanyaan yang menumpuk yang sudah berebutan ingin keluar. Singkatnya pertemuan tak sesingkat ilmu yang didapat, semoga ia  bermanfaat. Dan karena tahun, bulan, hari, jam dan bahkan detik semuanya telah terprogram dalam mega server di Lauhin Mahfuz, termasuk juga pertemuan singkat ini. Allahu A’lam...

*Medan, 18 Des 2012