Laman

Sabtu, 22 Maret 2014

SURPRISE CINTA



"Waduuuh… Ternyata jadi reporter ribet juga ya”. Keluhku pada Sanjaya, juru kamera yang selalu ada di sampingku, kemana-mana kami selalu bersama, kalau kata orang nih, kami lengket kayak prangko, hehe.
Inilah aku Alexa Lovato, muslimah yang hijrah secara kaffah1 di waktu kuliah dulu, aku anak Psikologi yang bercita-cita jadi psikolog anak, tapi nyasar jadi reporter, entahlah mungkin takdir yang membawaku ke dunia ini, dunia yang penuh dengan tantangan. Semangat!!!

25 Juni 2009
Inilah hari pertamaku jadi seorang reporter muda alias junior, teman-temanku tidak ada yang percaya saat aku bilang kalau aku diterima di salah satu stasiun TV sebagai reporter, kebanyakan mereka komentar soal jilbabku, apa gak gerah dengan cuaca yang amat sangat panas, apa gak berkibar tuh jilbab kalau lagi lari-lari ngejar sumber  info atau tersangkut di pagar orang pas lagi meliput atau ditarik sama anak-anak dikirain layangan, dll. Banyak deh komentar-komentar aneh yang menggelikan tentunya. Bagiku semua itu adalah bunga-bunga kehidupan.

7 September 2009
Tugas pertamaku yang bikin nervous bin deg-degkan karena stasiun TV kami satu-satunya yang diperbolehkan meliput kehidupan sehari-hari salah seorang pemain sepak bola nasional yang lagi hot-hotnya diperbincangkan masyarakat yang dalam waktu dekat akan mengikuti kejuaraan Internasional, ckckcckk….aku masih belum percaya dikasih tugas sepenting ini, aku kan masih baru di dunia ini, tapi bosku bersikeras kalau aku orang yang paling tepat untuk tugas ini. Okelah Bos kalau begitu, saya akan berusaha memberikan yang terbaik.
Mmm… Amanah pertama yang penuh tantangan, mudah-mudahan ini bisa menjadi batu loncatan agar aku bisa lebih kompeten. Liputan ini pasti cukup melelahkan karena aku akan meliput kehidupan sehari-hari seorang atlet yang super sibuk dari terbit sampai terbenam matahari, dari mau tidur sampai tidur lagi,  selama seminggu. Seminggu....!!!
Duuuhhh…..terasa makin berat saja ini tugas.

9 September 2009
Besok  pertempuran sudah dimulai, ngisi amunisi dulu ah…. Tahajjud dengan bumbu tilawah secukupnya  kurang lebih 1 juz. Mudah-mudahan tugasku ini bisa berjalan dengan lancar, amin.

10 September 2009
Gak nyangka reporter kelas teri seperti aku ini bisa jadi bahan obrolan teman-teman sekantorku. Bahkan reporter papan atas juga ikutan ngegosipin reporter papan pintu ini!!! hehe. Heran…heran.
Sebagai wanita berjilbab kain gorden (kata rekan kerjaku dalam guyonannya,hehe) yang satu-satunya di tempat kerjaku ini, aku hanya menanggapi dengan senyuman. Aku tidak habis pikir bakalan digosipin sama si Bos cuma gara-gara Bos ngasi tugas ini!!!
Aku sech gak apa-apa, santai saja, memang tidak ada apa-apa. Tapi si Bos kasian dia. Mr. Zoe begitulah aku memanggil bosku, di usianya yang masih cukup muda, 28 tahun, ia sudah ditinggal oleh istri tercinta, lebih kasian lagi Kafka, bocah yang baru berumur dua tahun itu sudah tidak bisa merasakan dekapan seorang ibu, lembut belaiannya, hangatnya ciuman dan perhatiannya. Uuhh...jadi sedih, ingat ibu di kampung.
Baru dua bulan yang lalu si Bos ditinggal mbak Ayu, istrinya, air matanya pun belum kering, eh….sudah digosipin sama anak-anak, ckckck, teganya, tega…tega….tega!!!
Tega banget sech ngegosipin aku ada hubungan spesial sama Bos, sampai ada yang bilang Bos ngasi tugas ini supaya bisa PDKT, karena menurut mereka si Bos lagi nyari ibu baru buat Kafka, katanya sih kriterianya tidak jauh-jauh dari mbak Ayu, meski jilbabnya almarhumah mbak Ayu gak sepanjang jilbabku tetapi sudah memenuhi kriteria jilbab syar’i, nah, itu dia alasan mereka.
Pinter banget ya mereka kait mengkaitkan kondisi orang, jadi kesal juga nih. Biarkanlah apa kata mereka seperti kata pepatah “anjing menggonggong kafilah berlalu”

11 September 2009
Tidak terasa dua hari sudah berlalu dengan terus mengikuti kegiatan si pesepak bola, Alghi, biasa ia dipanggil, tapi aku mulai merasa tidak nyaman, apa mungkin gosip yang kuanggap murahan itu ternyata benar adanya, si Bos memang menginginkan aku jadi ibu buat Kafka???. Oh Rabb…(aku kok jadi senyum-senyum begini).
Gimana gak aku berpikiran sedemikian rupa, habis si Bos tiap hari nanyain biodataku mulu, dari kegiatanku sehari-hari di luar kerja sampai kondisi lingkungan dan keluargaku, tidak puas apa si Bos dengan data yang sudah ada di file kantor, aku jadi GR ney, hehe.
Bingung jadinya, sekarang yang diliput siapa sih, aku atau Alghi, kok sepertinya aku yang banyak di interview sama si Bos. Belum lagi ditambah Alghi nan sombong, ihhh, gerem!!!. Senyum saja gak mau, aku kan cuma berusaha seramah mungkin, masa pas aku senyumin dia malah buang muka, nyebelin banget kan?. Baru jadi pesepak bola nasional, gimana coba kalau dunia Internasional mengenalnya, tidak bisa kubayangkan,
Sabar lex….sabar.

13 September 2009
Eh….eh…., si Bos makin gencar saja kayaknya, lama-lama capek juga ladenin pertanyaan si Bos. Gak tau apa dia aku ini aktivis dakwah, kalau memang naksir aku ya sudah, bilang saja langsung sama murobbiku2, tapi si Bos mana ngerti istilah murobbi ya???
Belum lagi dengan Kafka, kayaknya si Bos berusaha keras supaya aku bisa dekat sama Kafka, masa Kafka dibawa ke lokasi shooting dan kalau Kafka ingin ini itu, aku yang disuruh ngurusin, aku kan reporter yang lagi meliput seorang atlet yang sok cool bukan babby sitter Bos.

Sebenarnya sih tidak masalah kalau aku disuruh ngurusin Kafka karena memang aku suka banget sama anak-anak seperti cita-citaku yang belum kesampaian menjadi psikolog anak, tapi masalahnya Alghi si atlet yang tidak mau senyum itu malah sering mentertawakan aku pas ngurus Kafka, memang, aku suka dan sering berinteraksi dengan anak-anak, tapi kalau ngurus keperluan seorang anak berusia dua tahun dari A sampai Z aku kerepotan juga, inikan pertama kalinya bagiku, dasar atlet tidak punya perasaan, aku kan malu kalau sering diketawain begitu, lihat saja nanti kalau kamu sudah punya anak dan istrimu tidak pernah belajar ngurusin anak seperti aku sekarang ini, kujamin deh kalian bakalan kerepotan dan gantian aku yang bakalan mentertawakan kamu, ilmu tendang menendang bolamu itu tidak berguna untuk urusan yang satu ini. Tenang lex…tenang. Don’t be angry!

15 September 2009
Hari ke lima meliput Alghi, dan hari ke tiga si Bos bawa Kafka ke lokasi, kayaknya aku sudah mulai sayaaaaang banget sama Kafka, walaupun baru tiga hari bersama, kami sudah bisa dekat, aku juga heran, tumben anak kecil seperti Kafka ini bisa cepat ditaklukinnya. Deg, jantungku berdetak, kencang, sedikit menyesakkan, apa ini pertanda???
Ini memang memperkuat dugaanku tentang si Bos, apa iya si Bos bakal jadi teman hidupku, jadi orang yang selalu ada di sampingku, aku tidak menyangka bakal langsung punya anak umur dua tahun, ini berarti doaku tiap malam untuk ditemani oleh seorang hamba Allah yang aktifis dakwah nan tangguh, seorang yang akan menuntunku untuk lebih dekat dan mencintai Rabbku tidak diijabah3?. Dan kalau si Bos, kayaknya malah aku yang harus menuntun dia untuk mengenal dakwah, hikz….hikz.
Tapi kalau dilihat-lihat si Bos rajin juga sholatnya, malah pernah jadi imam sama Alghi, si atlet arogan itu rupanya juga sholat, keren….keren, kan jarang ada atlet yang menyempatkan sholat di tengah-tengah latihannya.



17 September 2009
Hari perpisahan kami sama Alghi tapi sepertinya aku belum dapat kesan positif dari dia, bagaimana mau buat laporan semenarik mungkin tentang Alghi, kemarin saja pas aku tanya ini itu tentang kesehariannya dan ini masuk dalam salah satu tugasku sebagai reporter, dia cuma jawab dengan sangat-sangat singkat dan tanpa ada ekspresi, kirain dia sudah jadi mayat hidup yang baru dikeluarin dari kulkas saking sok coolnya.
Dan yang buat aku terkejut, pas perpisahan tadi Alghi nyamperin dan minta maaf, aku juga dikasi bonus senyuman dia, meski tidak manis-manis amat tapi lumayanlah dari pada dia nunjukin muka tanpa ekspresinya ih…, kan serem.
Aku jadi lega, kukira aku cuma dapat pengalaman buruk saja selama meliput Alghi tapi Alhamdulillah masih ada pengalaman bagusnya meskipun di detik-detik terakhir, jadi sekarang aku sudah bisa buat laporan yang menarik tentang seorang atlet bernama Alghi.

25 November 2009
Tidit….tidit, sepertinya ada sms, oups dari kak Mashitoh, murobbiku, tumben ini kak Mashitoh nyuruh aku jumpain dia dan harus sendirian.
Sendirian???. Kata orang kalau murobbi ingin jumpa mutarobbinya4 sendirian, biasanya sebentar lagi bakal ada walimahan. Duh, aku jadi gugup ni, sepertinya feeling aku benar. Soalnya dari kemarin si Bos makin ramah saja samaku, sering nyapa sambil senyum-senyum gak jelas lagi, tapi si Bos mana mungkin ya???. Dia kan tidak mengerti apa itu murobbi, tata cara mengkhitbah5 dengan syar’i dll. Jadi siapa???

27 November 2009
Waduuuh…..makin penasaran saja, walaupun tadi jantungku sempat mau copot, nafasku seakan berhenti dan aku serasa melayang pas kak Mashitoh bilang kalau ada ikhwah yang mau mengkhitbahku, tapi siapa??? Kak Mashitoh tidak mau memberi tau, dia hanya bilang kalau aku sudah kenal dan dia hanya ingin memastikan kalau aku sudah siap atau belum untuk melaksanakan ta’aruf6. Umurku sekarang 24 jalan 25, aku sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari karena hal ini memang sudah kunanti dari usia 23, hehe.

1 Desember 2010
Semalaman aku tidak bisa tidur, kutenangkan batin dan hatiku yang lagi kacau balau dengan menjumpai Robbku di pertiga malam.

2 Desember 2010
“Assalamualaikum, kak sepertinya Lexa sedikit terlambat karena jalanan macet, afwan7”, ku kirim via sms ke nomor handphone kak Mashitoh.
Aku memasuki rumah kak Mashitoh dengan dzikir tanpa henti (kayak mau jumpa jin saja, hehe) dan waktu kakiku menginjakkan teras kak Mashitoh, aku mendengar suara khasnya si Bos, “ya Robb kupasrahkan semua padaMU, kalau si Bos memang jodohku, berikanlah ia hidayah untuk menjadi seorang da’i yang tangguh”, gumamku dalam hati.
Setelah mengucapkan salam, kak Mashitoh mempersilahkan aku untuk duduk, aku terlambat 20 menit dari perjanjian, kulirik orang di sekitarku kudapati si Bos sedang melihat ke arahku sambil tersenyum simpul, mata kami bertemu, nyessssss…..rasanya aku mau pingsan, aku juga merinding bukan karena senyumnya Mr.Zoe horor, tapi mungkin hormon di badanku ikutan grogi sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Tiba-tiba Alghi si atlet arogan yang sedikit baik itu nongol dari belakang dengan muka dan kedua tangan yang basah, sepertinya dia baru selesai mengambil air wudhu. Duuuhhh, ngapain juga itu anak ada disini???.
“Assalamualaikum wr wb”
Salam si Bos menghentikan otakku yang sedang berspekulasi sendiri dengan dunianya. Panjang lebar bos bercerita tentang awal dia jumpa aku di kantor, tentang bagaimana cara dia mengetahui kepribadianku, dan cara dia ngetes aku apakah sudah pantas untuk jadi istri seorang atlet dan jadi seorang ibu yang baik. “Stop…tiba-tiba otakku menggaris bawahi kata ‘seorang atlet’, seorang atlet?”.
Jadi ikhwah yang dimaksud kak Mashitoh bukan Mr.Zoe tapi si atlet arogan itu, tapi jujur sejak pertama kali jumpa sama Alghi aku memang merasakan suatu bentuk baru dari kebahagiaan, dan satu hal lagi, nyaman dan damai banget apalagi kalau lagi ngobrol atau lebih tepatnya wawancara sama dia. Tapi semua rasa itu sebisa mungkin kutepis, apalagi melihat dia yang seorang atlet dan yang kukira bukan seorang aktivis dakwah. Dan sekarang semua sudah jelas, si Bos ternyata teman semasa kuliahnya mas Taufik, suaminya kak Mashitoh, dan Alghi teman semasa SMAnya si Bos, dan liputan itu adalah sebuah kesengajaan. Skenario yang indah  tapi sedikit menyebalkan rancangan si Bos.
Dan ketiganya merupakan aktivis dakwah, bahkan Alghi yang kuanggap oon dakwah mengisi dua kelompok halaqoh8 di sela-sela aktifitasnya sebagai atlet sepak bola, salut deh buat calon suamiku tersayang, hehe.

9 Februari 2010
Ijab Qabul sudah diucapkan, Alghi yang sudah jadi suamiku semenit yang lalu liatin aku terus, bukan karena aku dandan cantik tapi karena sebelum dan sesudah ijab qabul mataku tidak mau berhenti mengeluarkan air mata kebahagiaan. Alghi suamiku yang merupakan seorang atlet merupakan surprise terindah dari Allah yang kutemukan di jalan dakwah ini. Syukurku selalu dalam hati atas SURPRISE CINTA DARI ALLAH, ROBBKU TERCINTA.

1Kaffah : secara menyeluruh
2Murobbi : ustadzah/pendidik
3Diijabah : dikabulkan
4Mutarobbi : yang dididik
5Khitbah : lamaran
6Ta’aruf : proses saling kenal untuk menuju jenjang pernikahan
7Afwan : maaf
8Halaqoh : Kelompok pengajian 

Diselesaikan : Oktober 2009 
Oleh :  Juni Esti Siregar (Mahasiswa Psikologi UMA, Medan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar